Gunung Sampah di Filipina Longsor, 38 Orang Hilang Ditelan Limbah
Agen Berita Polewali – Gunung Sampah di Filipina Tragedi memilukan terjadi di Filipina pada Senin (8/1/2026), ketika sebuah gunung sampah di kota Tondo, Manila, longsor dan menelan lebih dari 38 orang yang sedang bekerja di tempat pembuangan sampah tersebut. Bencana ini terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut, menyebabkan penurunan stabilitas tumpukan sampah yang telah menumpuk selama bertahun-tahun.
Sebagian besar korban dilaporkan adalah pekerja informal yang sehari-harinya bekerja mengais sampah di kawasan tersebut. Tumpukan sampah yang tingginya mencapai lebih dari 20 meter ini dikenal sebagai salah satu tempat pembuangan sampah terbesar di Manila, yang menampung sampah domestik dan limbah industri dari seluruh kota.
Longsor Gunung Sampah, 38 Orang Hilang
Menurut laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Filipina (NDRRMC), longsoran sampah terjadi pada pagi hari, saat sebagian besar pekerja sedang beraktivitas di kawasan pembuangan sampah. Bencana tersebut terjadi secara tiba-tiba dan sangat cepat, membuat banyak pekerja terperangkap di bawah tumpukan sampah yang bergerak menuruni lereng.

Baca Juga: Menhan Dukung Siswa SMA Bela Negara yang Ingin Jadi Pilot Pesawat Tempur
Kecelakaan Ini Bukan yang Pertama
Kejadian longsornya gunung sampah ini bukanlah yang pertama kali di Filipina. Selama bertahun-tahun, tempat pembuangan sampah Tondo telah mengalami penurunan stabilitas dan longsor kecil akibat penumpukan sampah yang tidak terkelola dengan baik. Pemerintah setempat sebenarnya sudah merencanakan pemindahan sampah ke tempat pembuangan yang lebih aman, namun masalah infrastruktur dan sumber daya menjadi hambatan besar.
Bencana serupa pernah terjadi di Filipina pada tahun 2000, ketika sebuah tempat pembuangan sampah di Payatas, Manila, longsor dan menewaskan lebih dari 200 orang. Peristiwa tersebut menjadi titik balik bagi pemerintah untuk mulai memikirkan solusi yang lebih baik untuk pengelolaan sampah dan perlindungan pekerja yang bekerja di tempat pembuangan sampah. Namun, kondisi ini masih terus berlanjut, terutama di wilayah-wilayah dengan populasi padat seperti Tondo.
“Setiap tahun kami selalu berusaha meningkatkan pengelolaan sampah di kawasan ini, namun permasalahan sosial dan ekonomi menghalangi upaya kami. Banyak warga yang bergantung pada penghasilan dari tempat sampah, bahkan jika itu berarti harus bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya,” ujar Angeline Reyes, seorang aktivis lingkungan yang telah lama mengadvokasi perbaikan sistem pembuangan sampah di Manila.
Tanggapan Pemerintah dan Aktivis Lingkungan
Pemerintah Filipina, melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (DENR), Maria Antonia Cruz, menyatakan penyesalan mendalam atas insiden tersebut dan berjanji akan melakukan segala upaya untuk mencari korban yang hilang serta memberikan bantuan kepada keluarga korban. Selain itu, pemerintah juga berencana untuk mempercepat proyek pemindahan tempat pembuangan sampah yang lebih aman, meskipun hal ini membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.
“Saat ini, prioritas kami adalah mencari korban yang hilang dan memberikan bantuan kepada mereka yang terluka.
Sementara itu, para aktivis lingkungan dan pekerja sosial mendesak pemerintah untuk segera mengatasi masalah pengelolaan sampah yang sudah berlangsung lama di Tondo. Menurut mereka, insiden ini merupakan gambaran jelas tentang buruknya pengelolaan sampah di Filipina dan perlunya perubahan mendasar dalam sistem pembuangan sampah.
“Ini adalah akibat dari pengelolaan sampah yang buruk. Pekerja di tempat-tempat seperti ini bekerja dalam kondisi yang sangat berisiko karena tidak ada perlindungan yang memadai. Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini, bukan hanya dengan membangun fasilitas yang lebih baik, tetapi juga dengan melibatkan komunitas dalam pengelolaan sampah,” kata Rafael Mendoza, seorang aktivis dari Organisasi Pekerja Sampah Filipina.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Bencana longsornya gunung sampah ini juga membawa dampak besar terhadap lingkungan sekitar. Sampah yang terkumpul dalam jumlah besar dan tidak terkelola dengan baik telah menyebabkan polusi yang serius di wilayah tersebut, merusak tanah dan mengontaminasi sumber air. Beberapa kali, warga sekitar juga mengeluhkan bau busuk yang berasal dari tempat pembuangan sampah yang terus-menerus mencemari udara.
Selain dampak lingkungan, insiden ini juga menunjukkan ketimpangan sosial yang terjadi di Filipina, di mana banyak warga miskin yang bergantung pada sampah sebagai sumber penghidupan mereka. Meskipun berisiko tinggi, pekerjaan ini menjadi pilihan terakhir bagi mereka yang tidak memiliki akses ke pekerjaan yang lebih baik.
Penutupan: Urgensi Reformasi Pengelolaan Sampah
Insiden tragis ini menambah deretan panjang bencana akibat pengelolaan sampah yang buruk di Filipina. Mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan sampah yang berbahaya serta memperbaiki kondisi kehidupan pekerja informal di tempat tersebut harus menjadi prioritas bagi pemerintah dan lembaga terkait.
“Ini adalah saat yang sangat berat bagi kami semua, terutama bagi keluarga korban yang kehilangan orang yang mereka cintai. Kami berharap kejadian ini bisa menjadi titik balik untuk mendorong perubahan dalam cara kita mengelola sampah dan melindungi hak pekerja,” ujar salah satu anggota keluarga korban yang hilang dalam tragedi tersebut.





